KITA INI BUKAN BADAN
dehi nityam avadhyo ‘yam dehe
sarvasya bharata
tasmat sarvani bhutani na tvam socitum arhasi
“O putra dari keluarga Bharata, dia yang tinggal di dalam badan adalah
kekal dan dia tidak dapat dibunuh. Karena itu anda tidak perlu meratap untuk
makhluk apapun”. (Bg.2.30).
Langkah pertama dalam
keinsafan diri ialah menginsafi bahwa, identitas kita ini lain daripada badan.
Menginsafi bahwa, “Saya ini bukan badan melainkan saya ini roh” merupakan
syarat untuk semua orang yang ingin mengatasi kematian dan masuk dunia rohani
diluar dunia ini. Bukan semata-mata soal menyatakan, “Saya ini bkan badan,”
tetapi soal benar-benar menghayati bahwa saya bukan badan. Mungkin soal ini
nampaknya gampang dilakukan jika dipikirkan sepintas lalu, tetapi sebetulnya
tidak segampang itu. walaupun kita ini bukan badan yaitu, kita ini kesadaran
yang suci, namun bagaimanapun juga kita sudah terbungkus dengan badan
jasmani.
Kalau sesungguhnya kita ingin kebahagiaan dan pembebasan yang mengatasi
kematian, maka kita harus menjadi mantap dan tinggal dalam kedudukan kita yang
dasar sebagai kesadaran yang suci.
Kalau kita masih mempunyai
pengertian yang jasmani, maka persangkaan kita tentang kebahagiaan seperti
persangkaan orang yang sedang menggigau. Ada beberapa orang ahli Filsafat yang
menyatakan bahwa, keadaan mempersembahkan diri dengan badan yang diumpamakan
sebagai orang yang menggigau hendaknya disembuhkan dengan cara menghindari
segala macam kegiatan sema sekali. Oleh karena kegiatan duniawai telah menjadi
sumber keduka-citaan bagi kita, orang-orang ahli Filsafat tersebut menyatakan
bahwa, seharusnya ktia menghentikan kegiatan itu. tingkatan kesempurnaan
tertinggi bagi mereka adalah sejenis nirvana dimana tidak ada kegiatan yang
dilakukan sama sekali. Sang Budha menyatakan bahwa, oleh karena suatu kombinasi
dari unsur-unsur alam badan ini suda berwujud, dan jika bagaimanapun juga
unsur-unsur alam itu dipisahkan atau dibongkar, maka sumber penderitaan
dihilangkan. Kalau kita terlalu susah membayar pajak yang begitu tinggi karena
kita memiliki rumah yang besar, maka salah satu cara yang sederhana terhadap
masalah itu adalah menghancurkan rumah itu. akan tetapi dalam Bhagavad-gita
ditunjukkan bahwa, badan jasmani ini bukan segala sesuatu. Diluar kombinasi
dari unsur-unsur alam tersebut ada roh, dan kesadaran adalah gejala dari roh
itu.
Adanya kesadaran tidak
dapat ditolak. Sebuah tubuh tanpa kesadarannya adalah mayat. Selekas kesadaran
itu diambil dari badan, mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat,
mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat, dan kuping tidak bisa
mendengarn. Anak-anak pun dapat mengerti hal itu. memang benar bahwa, adanya
kesadaran merupakan syarat mutlak untuk menggerakkan badan. Apa artiny
kesadaran itu ? Seperti halnya pemanas atau asap merupakan gejala-gejala dari
api, begitu pula kesadaran merupakan gejala dari roh. Tenaga dari roh atman
dihasilkan dalam bentuk kesadaran. Memang, adanya kesadaran membuktikan adanya
roh. Filsafat ini tidak hanya disebut dalam Bhagavad-gita saja, tetapi juga
merupakan kesimpulan dari semua Pustaka Suci Veda.

Para penganut Sankaracarya
yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, beserta pula para Vaisnava yang
mengikuti garis perguruan rohani dari Sri Krsna, mengakui adanya roh sebagai
kenyataan, tetapi ada suatu golongan ahli Filsafat yang tidak mengakui adanya
roh. Penganut-penganut Filsafat tersebut menyatakan bahwa, pada suatu tingkatan
kombinasi dari unsur-unsur alam menghasilkan kesadaran, tetapi pendapat itu terbukti salah oleh kenyataan bahwa,
walaupun segala bahan-bahan alam tersedia, kita tidak dapat menghasilkan
kesadaran dari unsur-unsur itu. semua unsur alam barang kali ada dalam sebuah
mayat, tetapi kita tidak sanggup menghidupkan mayat itu sehingga menjadi
sadara. Badan ini tidak seperti mesin. Apabila suatu bagian dari sebuah mesin
menjadi rusak, maka bagian itu dapat titukar, dan mesin itu dapat bekerja lagi.
Tetapi apabila badan menjadi rusak dan kesadaran keluar dari badan, maka tidak
mungkin kita menukar bagian badan yang rusak dan menghidupkan kembali
kesadarannya. Roh itu lain daripada tubuh, dan selama roh masih ada, badan bisa
bergerak, tetapi tidak mungkin menggerakkan badan kalau tidak ada roh.
Oleh karena kita belum
dapat melihat roh dengan memakai indria-indria kita yang kasar, kita tidak
mengakui adanya roh. Banyak sekali hal-hal yang diluar kesadaran kita, namun
hal-hal itu benar-benar ada, hanya kita belum bisa melihatnya. Kita belum bisa
melihat udara, siaran radio, suara, ataupun
bakteri-bakteri yang sangat kecil dengan memakai indria-indria kita yang kasar.
Tetapi ini tidak berarti hal-hal tersebut tidak ada. Dengan memakai mirkoskop
dan alat-alat yang lain, banyak sekali benda-benda yang dapat dilihat, padahal
adanya benda-benda itu dahulu kala tidak diakui oleh indria-indria yang kurang
sempurna. Hendaknya kita jangan menarik kesimpulan bahwa tidak ada roh yang
ukurannya sekecil atom hanya karena roh belum dapat dilihat oleh indria-indria
ataupun dengan memakai alat-alat. Akan tetapi adanya roh itu dapat dimengerti
dari gejala-gejala dan hasi-hasilnya.
Dalam Bhagavad-gita Sri
Krsna menunjukkan bahwa, segala kesengsaraan disebabkan karena kita
mempersamakan diri dengan badan.
matra-sparsas tu
kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah
agamapayino ‘nityas tams titiksasva bharata
“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat
sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikana halnya musim
dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga
Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang
harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg. 2.14).
Pada musim panas
barangkali ktia bersenang hati kena air, tetapi pada musim dingin kita
menghindari air yang sama, karena terlau dingin. Baik pada musim panas maupun
pada musim din gin, airnya sama saja, tetapi kita merasakan bahwa air itu
menyenangkan atau menyakitkan karena hubungannya dengan badan. Segala perasaan
keduka-citaan dan kesenangan disebabkan oleh badan. Asal saja ada keadaan yang
tertentu, badan dapat merasakan kesenangan dan keduka-citaan. Sebenarnya kita
rindu akan kebahagiaan karena kedudukan roh yang dasar ialah kedudukan
kebahagiaan. Roh-roh adalah bagian-bagian dari Tuhan Yang Maha Esa yang
mempunyai isifat yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa
bersifat sac-ideology-ananda-vigrahan. Yaitu, perwujudan dari pengetahuan,
kebahagiaan dan kekekalan. Memang nama Krsna, yang tidak hanya dimiliki satu
kelompok tertentu, berarti, kebahagiaan yang paling tinggi”. Krs adalah sarinya
kebahagiaan, dan kita sebagai bagian-bagian dari Beliau yang mempunyai sifat
yang sama seperti Beliau, kita pun rindu akan kebahagiaan. Satu tetes air laut
mempunyai segala sifat dari lautan yang luas, demikian pula kita mempunyai
sifat-sifat tenaga yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa, padahal kita hanya
bagian-bagian yang kecil sekali dari Keseluruhan Yang Utama, Tuhan Yang Maha
Esa.
Sungguhpun roh sangat
kecil sekali seperti atom, namun roh lah yang menggerakkan badan sehingga badan
itu banyak bertindak dengan cara yang ajaib. Alangkah banyaknya kota-kota,
jalan raya, jembatan, gedung yang tinggi, tugu dan peradaban yang agung yang
kita lihat di dunia, tetapi siapakah yang membuat segala-galanya itu ?
Segala-galanya dibuato leh bunga api rohani yang sangat kecil, yang berada
didalam badan. Kalau keajaiaban-keajabain seperti yang tersebut diatas dapat
dilakukan oleh bunga api rohani yang sangat kecil, maka kita belum dapat
membayangkan apa yang dapat dicapai oleh Keseluruhan Rohan Yang Paling Utama.
Keinginan yang wajar bagi bunga api rohani yang kecil ialah keinginan untuk
mendapatkan sifat-sifat dari keseluruhan, yaitu pengetahuan, kebahagiaan dan
kekekalan. Tetapi keinginan-keinginan tersebut sekarang dialang-alangi karena
badan jasmani. Keterangan tentang cara mencapai apa yang diinginkan oleh roh
itu diberikan dalam Bhagavad-gita.
Sekarang ini kita berusaha
untuk mencapai kekekalan, kebahagiaan dan pengetahuan dengan cara memakai alat
yang kurang sempurna. Sesungguhnya kemajuan kita menuju pada tujuan-tujuan
tersebut dialangi-alangi oleh badan jasmani, karena itu kita harus menginsafi
kehidupan kita diluar badan tidaklah cukup. Kita harus selalu menjaga agar diri
kita menyediri dari badan dan mengendalikan badan, janganlah kita menjadi hamba
untuk badan. Kalau kita sudah tahu cara mengemudi mobil dengan baik, maka mobil
itu akan melayani kita dengan baik, tetapi kalau kita belum tahu cara
mengemudikan, maka kita berada dalam keadaan bahaya.
Badan terdiri dari
indria-indria, dan indria-indria selalu haus akan obyeknya. Mata melihat orang
yang cantik atau tampan, kemudian memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada
gadis yang cantik, disana ada lelaki yang tampan. Marilah kita kesana untuk
melihat.”
Telinga memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada musik yang bagus.
Marilah kita pergi mendengar musik itu”. Lidah mengatakan “Disana ada restoran
yang bagus yang menghidangkan makanan yang lezat. Marilah kita kesana”. Seperti
itulah indria-indria menarik diri kita dari suatu tempat ketempat yang lain,
dan karena itu kita menjadi bingung.
indriyanam hi caratam yan mano’ nuvidhiyate
tad asya harati prajnam vayur navam ivambhasi
“Bagaikan kapal diatas air dibawah pergi oleh angin yang keras, begitu juga
kecerdasan seseorang dapat dibawah pergi bahkan oleh satu saja diantara
indria-indria yang menjadi pusat perhatian bagi Pikiran”. (Bg. 2.67).
Kita harus belajar cara
mengendalikan indria-indria. Gelar gosvami diberikan kepada orang yang sudah
mengetahui cara menklukan indria-indria. Go berarti “indria-indria, dan svami
berarti “pengendali, demikian orang yang dapat mengendalikan indria-indria
disebut gosvami. Krsna menunjukkan bahwa, orang yang mempersembahkan dirinya
dengan badan jasmani yang bersifat khalayan, dia tidak dapat menjadi mantap
dalam identitasnya yang benar, yaitu, sebagai roh atau atman. Kebahagiaan
jasmani berkelip-kelip dan memabukkan, dan kita tidak dapat menikmati
kebahagiaan jasmani karena sifatnya sementara saja. Kebahagian yang sejati
berasal dari roh atau atman, bukan dari badan. Kita harus membentuk kehidupan
kita supaya kita tidak akan disesatkan oleh kebahagiaan jasmani. Bagaimanapun
kalau kita disesatkan, maka tidak mungkin kesadaran kita dijadikan mantap dalam
identitasnya yang sejati, yaitu lain daripada badan.
bhogaisvarya-prasaktanam ta yapahrta-cetasam
vyavasayatmika buddhih samadhau na vidhiyate
trai-gunya-visaya veda nistrai-gunyo bhavarjuna
nirdvandvo
nitya-sattva-stho niryoga-ksema atmavan
“Orang-orang yang pikirannya terlau terikat dengan kepuasan indria-indria
dan kekayaan duniawi sehingga pikirannya menjadi bingung karena hal-hal itu,
mereka tidak dapat bertambah hati dengan mantap untuk berbakti kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Veda pada umumnya menguraikan tentang tiga sifat alam
(tri-guna), O Arjuna. Atasilah tiga sifat alam itu. atasilah semuanya.
Lepaskanlah diri anda dari segala hal yang relatif dan kecemasan akan
keuntungan dan keselamatan, dan menjadi mantap pada Paramatma (Roh Yang
Utama)”. (Bg. 2.44-45).
Kata Veda berarti “buku
ilmu pengetahuan.” Ada banyak buku pengetahuan yang lain sesuai dengan negeri,
penduduk, lingkungan, dan sebagainya. Di India, Kita-kitab Pengetahuan disebut
Veda. Di negara-negara Barat, Kitab-Kitab pengetahuan disebut Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru. Umat Islam mengakui Al Quran. Apa maksud daripada semua
Kitab-kitab tersebut ialah melatih kita agar kita dapat mengerti kedudukan kita
sebagai roh-roh yang bersifat suci. Maksudnya ialah mengendalikan kegiatan
jasmani dengan aturan-aturan yang tertentu disebut norma-norma moril. Misalnya
dalam Kitab Injil ada sepuluh perintah yang dimaksudkan untuk mengatur
kehidupan. Badan harus dikendalikan agar kita dapat mencapai kesempurnaan yang
paling tinggi, dan tanpa prinsip-prinsip untuk mengatur, tidak mungkin ktia
menyempurnakan kehidupan kita. Aturan-aturan mungkin berbebda diantara satu
negeri dan negeri yang lain, atau diantara salah satu Kitab Suci dan Kitab Suci
yang lain, tetapi itu tidak menjadi soal sebab peraturan-peraturna tersebut
dibuat sesuai dengan zaman, keadaan dan mental rakyat (desa, kala, patra).
Tetapi prinsipnya sama saja, yaitu, pengendalian secara tertatur. Begitu pula
pemerintah menetapkan peraturan-peraturan untuk dituruti oleh penduduk negara.
Tidak mungkin ada kemajuan dalam pemerintahan ataupun dalam peradaban tanpa ada
peraturan-peraturan. Dalam sloka yang disebut diatas, Sri KRsna memberitahukan
kepada Arjuna bahwa, aturan-aturan dalam Veda dimaksudkan untuk mengendalikan
tiga sifat alam, yaitu sattva (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kebodohan)
traigunya-visaya vedah). Akan tetapi, Krsna memberi nasehat kepada Arjuna agar
Arjuna menjadi mantap dalam kedudukannya yang dasar sebagai roh diluar hal-hal
yang relatif dari alam duniawi.
Sebagaimana ditunjukkan
tadi, hal-hal relatif tersebut, seperti misalnya, panas dan dingin, rasa senang
dan rasa sakit, timbul karena hubungan indria-indria dengan obyek-obyeknya.
Dengan kata lain, hal-hal tersebut muncul karena seseorang mempersamakan
dirinya dengan badan. Krsna Menerangkan bahwa, orang yang gemar akan kenikmatan
dan kewibawaan dipengaruhi oleh kata-kata dari Veda yang menjanjikan kebahagian
dan kenikamtan di svarga dengan cara melakukan pengorbanan dan kegiatan yang
teratur. Kenikmatan adalah hak asasi kita, sebab itu merupakan sifat dari roh,
tetapi roh itu berusaha menikmati secara duniawi, dan inilah kesalahannya.
Semua orang mencari kenikmatan dalam hal-hal duniawi dan berusaha untuk
mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ada orang yang menjadi ahli ilmu
kimia, ada yang menjadi ali ilmu fisika, ahli politik, ahli seni rupa, dan
lain-lain. Seorang orang mengetahui banyak tentang sesuatu hal, dan juga
mengetahui sekedar tentang segala hal, dan inilah yang biasanya disebut
pengetahuan. Tetapi ketika kita meninggalkan badan, segala pengetahuan tersebut
akan hilang. Dalam penjelmaan dahulu, mungkin seseorang pernah menjadi orang
yang sangat berpenegetahuan, tetapi selama penjelmaan ini dia harus mulai lagi
dengan masuk sekolah dan belajar cara membaca dan menulis dari dasar-dasarnya.
Orang-orang sudah lupa akan segala pengetahuan yang didapatinya selama
penjelamaannya yang dahulu. Sebenarnya kita mencari pengetahuan yang kekal,
tetapi pengetahuan yang kekal itu tidak dapat diperoleh dengan badas jasmani
ini. Kita semua mencari kebahagiaan melalui badan-badan ini, tetapi kenikmatan
jasmani bukan kenikmatan yang sejati. Kenikmatan jasmani bersifat tiruan saja.
Kita harus mengerti bahwa, kalau kita ingin melanjutkan kenikmatan tiruan
tersebut, maka kita tidak akan dapat mencapai kedudukan kita yang kekal, yaitu,
kedudukan dimana kita menikmati untuk selamanya.
Harus dianggap bahwa badan
itu adalah seperti keadaan sakit. Orang yang sakit tidak dapat menikmati
sesuatu secara layak. Misalnya, orang yang sakit kuning merasakan manisnya gula
sebagai pahi, tetapi orang yang sehat dapat merasakan anisnya gula itu. baik
bagi orang yang sakit, maupun bagi orang yang sehat, gula nya sama saja, tetapi
sesuai dengan keadaan kita rasanya lain. Kalau pengertian kehidupan jasmani
yang telah diumpamakan sebagai keadaan sakit belum disembuhkan, maka tidak
mungkin kita merasakan manisnya kehidupan rohani. Kalau kita belum sembuh dari
pengertian tersebut, maka kehidupan rohan rasanya pahit bagi kita. Pada waktu
yang sama, dengan meningkatkan kenikmatan kita dari kehidupan duniawi, kita semakin memperparah keadaan
sakit. Orang yang sakit tyupus tidak boleh makan makanan yang padatr. Kalau
seseorang memberi makanan yang padat kepada si penderita agar dia menikmati,
kemudian si penderita makan makanan itu, maka dia menyebabkan penyakit itu
menjadi semakin parah dan membahayakan keselamtan si penderita. Kalau kita
benar-benar ingin bebas dari penderitaan duniawi, maka kita harus mengurangi
kebutuhan dan kenikmatan kita yang bersifat jasmnai. Sebenarnya kenikmatan
duniawi itu sama sekai bukan kenikmatan. Kenikmatan yang sejati tidak ada
habis-habisnya. Dalam Mahabharata ada sebuah sloka yang berbunyi : ramante
yogino, nante, yang berarti bahwa, para yogi (yogino) yang berusia untuk naik
tingkat sampai tingkatan rohani, sebenarnya mereka menikmati (ramante), tetapi
kenikmatan itu bersifat anante, yaitu tidak ada habis-habisnya. Ini karena
kenikmatan para yogi ada hubungannya dengan Yang Maha Menikmati (Rama), yaitu,
Sri Krsna. Sebenarnya Bhagavan Sri Krsna yang menikmati, dan ini dibenarkan
dalam Bhagavad-gita :
bhoktaram yajna-tapasam sarva-loka-mahesvaram
suhrdam sarva-bhutanam jnatva mam santim rcchati
‘Para resi yang mengetahui bahwa akhirnya Aku yang menikmati hasil dari
segala pertapaan dan pengorbanan (yajna), bahwa Aku Tuhan Yang Maha Esa yang
berkuasa atas semua planet-planet dan dewa-dewa, dan bahwa Aku teman baik bagi
setiap makhluk hidup, merekalah yang mencapai kedamaian bebas dari sedihnya
kesengsaraan duniawi. (Bg. 5.29).
Bhoga berarti “kenikmatan”,
dan kenikmatan kita berasal dari pengertian tentang kedudukan kita, yaitu,
bahwa kita dinikmati. Sebenarnya yang menikmati ialaha Tuhan Yang Maha Esa, dan
kita semua menikmati oleh Beliau.
Sebuah contoh daripada
hubungan tersebut dapat ditemui di dunia ini, yaitu, hubungan antara suami dan
isteri, sang suami yang menikmati (purusa), dan sang isteri yang dinikmati
(prakrti). Kata pri berarti “wanita”. Purusa, atau kerohanian, adalah subyek,
dan prakrti, atau alam, adalah obyek. Akan tetapi suami-istri keduanya
berpartisipasi dalam kenikmatan. Apabila kenikmatan benar-benar ada, maka tidak
ada perbedaan, misalnya bahwa suami lebih menikmati atau istrinya kurang
menikmati. Walaupun lelaki yang lebih berkuasa, tidak ada perbedaan dalam
rangka menikmati. Dalam skala yang lebih luas, tidak ada makhluk hidup yang
menikmati.
Tuhan Yang Maha Esa
tenaga-Nya menjelma menjadi banyak, dan kita ini penjelmaan-penjelmaan itu.
Tuhan adalah satu yang tiada duanya, tetapi Beliau ingin supaya tenaga-Nya
menjadi banyak supaya Beliau dapat menikmati. Kita sudah mengalami bahwa, kalau
kita duduk sendirian di kamar bercakap-cakap dengan diri sendiri, hampir tidak
ada kenikmatan. Akan tetapi, kalau ada lima orang, maka kenikmatan kita
ditingkatkan, dan apabila kita dapat bercakap-cakap tentang Krsna bersama
banyak orang, maka kenikmatannya lebih tinggi lagi. Kenikmatan berarti
keaneka-warnaan. Tenaga Tuhan menjadi banyak demi kenikmatan Beliau, demiian
kedudukan kita ialah sebagai “yang dinikmati. Walaupun Krsna yang menikmati dan
kita yang dinikmati, semua dapat berpartisipasi dalam kenikmatan secara merata.
Kenikmatna kita dapat disempurnakan apabila kita berpartisipasi dalam
kenikmatan Tuhan. Tidak mungkin menikmati sendiri pada bidang-bidang jasmani.
Dalam banyak sloka dari Bhagavad-gita dinasihati supaya orang jangan menikmati
secara dunaiwi pada tingkatan badan jasmani yang kasar.
matra-sparsas tu kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah
agamapayino ‘nityas tams titiksasva bharata
“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat
sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikan halnya musim
dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga
Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang
harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg.2.14).
Badan jasmani yang kasar
adalah akibat dari hal saling mempengaruhi dari tiga sifat alam, dan sudah
ditakdirkan bahwa badan itu akan dibinasakan.
antavanta ime deha nityasyoktah saririnah
anasino prameyasya tasmad yudhyasva bharata
Yang dapat dibinasakan hanyalah tubuh dari makhluk hidup, dan makhluk hidup
itu sendiri bersifat kekal, tidak dapat termusnahkan ataupun diukur ukurannya.
Demikian, bertempurlah anda O putra dari keluarga Bharata. (Bg.2.18).
Demikian Sri Krsna memberi
semangat kepada kita agar kita mengatasi pengertian kehidupan yang jasmani dan
agar kita mencapai kehidupan rohani yang sejati.
gunan etan atitya trin dehi deha-samudbhavan
janma-mrtyu
jara-duhkhair vimukto ‘mrtam asnute
“Apabila makhluk yang berbadan dapat mengatasi tiga sifat tersebut, yaitu,
kebaikan, nafsu dan kebodohan, maka ia dapat bebas dari kelahiran, kematian
masa tua dan penderitaannya dan bahkan selama kehidupan ini pun ia dapat
menikmati amrta. (Bg. 14.20).
Supaya kita dapat menjadi mantap pada tingkatan rohani yang disebut
brahma-bhuta, diatas tiga sifat ala, kita harus memulai cara Kesadaran Krsna.
Berkat dari Sri Caitanya Mahaprabhu, yaitu, cara mengucapkan nama-nama
Krsna-Hare Krsna, Hare Krsna, Krsna Krsna, Hare Hare / Hare Rama, Hare Rama,
Rama Rama, Hare Hare mempermudah cara tersebut. Cara ini disebut bhakti-roga
atau mantra-yoga dan mantra itu dipergunakan oleh para rohaniawan yang paling agung. Bagaimana para rohaniawan insaf
akan identitasnya diluar kehalhiran dan kematian, diluar badan jasmani, serta
bagaimana mereka memindahkan dirinya keluar dari alam semesta sampai alam
semesta rohani, itulah yang merupakan mata pembicaraan dalam bab-bab berikut.
(dikutip Dari Buku ”Diluar Kelahiran & Kematian” karangan Om Visnupada A.C. Bhaktivedanta Swami
Prabhupada ; Acharya dan Pendiri dari International for Krishna
Consciousness).**
NB: Dikutip untuk kalangan sendiri, dan keperluan preaching.
October 3rd, 2008 at 7:45 pm
terima kasih atas segala uraiannya,, hare krishna
October 3rd, 2008 at 7:47 pm
bagaimana saya bisa berdiskusi/bertanya dengan anda lebih lanjut ,,,,,,,,,saya tunggu jawaban dan kesediaan anda
June 16th, 2009 at 1:05 am
email kami di bvinstitute@gmail.com Terima kasih